Iseng-Iseng Ngitung Pendapatan Commuter Line

Beberapa bulan terakhir ini setelah harga ojek online naik gue jadinya kembali naik Commuter Line. Gue suka sih naik Commuter Line. Mobil bisa gue parkir stasiun Jurangmangu terus tinggal naik Commuter Line untuk berangkat dan pulang kerja. Tadi pagi gue lagi bosen nungguin kereta, tiba-tiba gue ngitung-ngitung sendiri kira-kira pendapatan KRL setiap bulannya itu berapa ya? Jadi berikut adalah buah pikir gue:

Tahukah Anda bahwa satu gerbong Commuter Line bisa menampung 250 penumpang? (Info ini gue dapat dari salah satu forum transportasi Indonesia)

  1. Apabila satu rangkaian Commuter Line terdiri dari 8 gerbong kereta (sekarang beberapa lintasan sudah mencapai 12 gerbong kereta. Lihat disini) maka rangkaian kereta tersebut bisa membawa 2.000 commuters. Apabila setiap 15 menit ada satu rangkaian kereta berjalan, maka dalam satu jam ada 8.000 penumpang yang bisa diangkut oleh rangkaian kereta Commuter Line.
  2. Apabila peak hours antara pukul 06.00 – 08.00 / 18.00 – 20.00, dalam peak hours tersebut ada 32.000 commuters yang bisa diangkut. Ini baru hitungan peak hours dan hanya dari satu lintasan kereta (misal: Maja – Tanah Abang).
  3. Apabila ditambahkan satu lintasan kereta lagi (misal: Bogor – Tanah Abang), dengan perhitungan yang sama diatas; maka terdapat 64.000 penumpang yang bisa dibawa oleh rangkaian commuterline dari 2 lintasan (Maja – Tanah Abang dan Bogor – Tanah Abang) di saat peak hours.

Sekarang mari hitung berapa kira-kira pendapatan Commuterline dalam satu bulan (gue cuma menghitung pendapatan dari 2 lintasan kereta diatas di hari kerja + peak hours saja disini).

  1. Dua lintasan kereta mampu mengangkut 64.000 penumpang dalam satu hari x 20 hari kerja = 1.280.000 penumpang.
  2. Per orang kita ambil biaya termurah untuk satu kali perjalanan, yaitu Rp2.000, maka: 1.280.000 x Rp2.000 = Rp2.560.000.000,-

Itulah minimal pendapatan Commuter Line dalam sebulan: Rp2.560.000.000,- ; apabila dihitung dengan pendapatan non peak hours, hari libur dan kereta kelas ekonomi, + pemasukan dari lintasan kereta lainnya maka pendapatan Commuter Line bisa dua kalinya (atau lebih) untuk setiap bulan menjadi: Rp5.000.000.000,-; dipotong dengan ppn 10% maka yang diterima adalah: Rp4.500.000.000,-

Lumayan besar ya pendapatan KRL? Ini belum dihitung pendapatan dari iklan yang dapat ditemukan di dalam gerbong dan di badan gerbong, sewa tempat untuk jualan makanan dan minuman di beberapa stasiun, beserta iklan yang terpampang di beberapa stasiun kereta.

Jadi sekarang pertanyaannya cukup atau tidak pendapatan dari Commuter Line? Yang pasti pengeluaran yang fix dari pihak KRL adalah untuk biaya operasional (gaji karyawan, listrik, dsb). Sekarang dengan adanya penambahan gerbong kereta, mesin otomatis pembelian tiket kereta, serta peremajaan beberapa stasiun maka dapat dipastikan ada pembengkakan biaya yang dialami oleh KRL.

Anyway, gue suka kok naik Commuter Line. Seru dempet-dempet masuk keretanya dan berdiri dengan posisi kaki kanan mengarah Utara dan kaki kiri mengarah Barat Daya sedangkan tangan pegangan railing di arah Timur. Ditambah kalau di pagi hari orang-orang disebelah kita akan menggunakan tangan/punggung/dada sebagai alas tidur. Belum pernah naik Commuter Line kalo lagi peak hours di JABODETABEK? Kira-kira begini rasanya:

 

 

BACA JUGA: Hemat Lebih Dari 3 Juta Rupiah Per Bulan Melalui Ojek Online

 

*Featured image from: http://sociozine.com/opini/krl-miniatur-kita/

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s