Burung Biru Chit Chat

Sebenarnya ini adalah cerita yang terjadi 7 tahun yang lalu, tapi masih seru untuk di share ulang disini 🙂

——

Selama tujuh bulan terakhir saya sering sekali menggunakan kendaraan umum pasca bayar yang cukup menghabiskan banyak uang, orang biasa menyebutnya dengan taksi.
Walaupun memang sarana transportasi yang saya sering sebut dengan paska bayar ini telah menaikkan harganya beberapa kali di tahun 2008. Kenaikan tarif taksi yang harus kita bayar tentunya memiliki alasan yang tepat. Salah satunya adalah serta inflasi yang dihadapi negara kita yang tercinta ini.

Moving forward, taxi drivers may hold the most secrets of secrets of people in Jakarta. These taxi drivers really know a lot of secrets!!!! This is what I call the real Jakarta Undercover.

Jujur saya juga beberapa kali suka cerita dan meminta pendapat kepada mereka mengenai permasalahan yang saya sedang hadapi saat itu. Tapi kalo saya tanya balik kepada mereka apakah mereka juga sering ditanya-tanya pendapatnya oleh para penumpang, mereka bisa cerita panjang lebar. Dimulai dari para istri simpanan, istri kedua – ketiga – dst, toy boy dari para tante-tante, orang-orang depresi sampe pengen bunuh diri, orang-orang yang bingung mau ngapain jadi mereka cuma minta dianterin keliling kota Jakarta, perempuan yang minta dianterin ke tempat aborsi, bahkan mereka bisa memberi informasi dimana rumah dari para ‘wanita nakal’ di sekitar Jakarta.

Tapi yang paling ga banget itu adalah kalo misalnya ketemu sama sopir yang cerewet, padahal kita disaat itu sedang merasa cape. Contohnya semalam ketika saya menaiki si burung biru dan menyusuri Jalan Sudirman – Monas – Patung Pak Tani – Senin – Cempaka Putih – HOME, sudah beberapa hari ini pekerjaan di kantor lagi penuh-penuhnya, walhasil yang namanya basa-basi akhirnya jadi basi banget.

This conversation starts at 22.30 in front of FX

Driver : Baru pulang, mas?
Me : Nggak. Ini habis makan malem diluar sama teman

Driver : Emang masnya kerja dimana?
Me : Saya kerja jadi PR konsultan. Kurang lebih sama dengan Humas tapi ini jadi konsultan.

Driver : Ooooo…EO geto yach mas?
Me : Nggak
Driver : Kalo gitu sales atau marketing gitu?
Me : Nggak juga. Kita lebih banyak hubungannya dengan cara mendekati ke masyarakat itu sendiri pak.
(I always disagree when someone says that a PR work is the same with becoming an EO or the same as sales and marketing SOW.)

Driver : Seru ga dek kerja jadi konsultan?
Me : Lumayan koq.
(Strangely this person started to call me ”DEK” now and not ”MAS” anymore)

* After a long conversation on where did I get my degree from, Indonesian people culture, Pemilu, and on communication and how we should position ourselves in a community, 45 minutes later I arrived home. And below are just the left over conversations between me and the driver

Driver : Kalo gitu menurut mas, saya harus merubah kepribadian saya atau tidak?
(Acting like a real pro in giving motivations and advices, this is my response to him)
Me : JUST BE YOURSELF! You will earn respect from others just by becoming yourself and not by becoming who you are not.
(YES! I have given this Bapak taxi driver an enlightment in how he should spend the rest of his life)


A few minutes later, after I called my maid to open the gate for me, it is time for us to settled our business

Me : Boleh pinjem bolpen pak, buat nulis voucher taksi.
Driver : Wahhh…saya lagi ga bawa dek!
(Again with the ”DEK” phrase, what happened with ”MAS”?)
Me : Ehhh, saya ada deng ini di kantong.
Driver : Ini biar saya nyalakan lampu dalam mobil biar enak nulisnya.
Me : Siappp

* Few seconds later

……….
……..
…..

Driver : Ternyata masnya ganteng juga yach! Manis!
ENG…ING…ENG…
(WTF mannnn! What the hell??? OK..ini ga banget lohh man! And what happened to the “DEK” phrase? Now you start to call me “MAS” again? This dude even took the umbrella from my maid hands who was waiting patiently in front of the gate of my house with his eyes nearly closed due to tiredness and swiftly make his way through my side of the taxi and tried really hard to protect me from the NOT SO HEAVY rain )
Me : Makasi pak…(sambil ngibrit lari langsung masuk rumah)

MORAL OF THE STORY : Don’t try to be a professional adviser if you are not!
It (may) turns out the taxi driver decided to ‘get out of the closet’ after I gave him the “JUST BE YOURSELF” advice and accidentally bumped into me, as the first person he decided to spell his first true feelings and concerns..Well, wish you all the best PAK!

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s